10 laluan yg perlu dilalui...
10 laluan yang bakal di lalui oleh manusia dari dunia sampai akhirat, bagaimana memudahkannya
1. Laluan Menuju ke Kubur
* Jauhkan dari perbuatan mengumpat dan mengeji
* Hindarkan perasaan irihati (benci)
* Jangan teroengaruh dengan emas/ perak
* Sucikan qada' hajat dengan istibra (berak/kencing)
2. Laluan untuk Berjumpa Izrail
* Bersihkan diri dengan bertaubat
* Gembirakan hati orang mukmin
* Bayar semula qada' yang tertinggal
* Kasih sepenuh hati kepada Allah Taala
3. Laluan untuk Bertemu Mungkar Nakir
* Mengucap dua kalimah syahadah
* Suka memberi sedekah
* Berkata benar
* Bersihkan dan perbaiki hati
4. Laluan untuk Memberatkan Timbangan
* Belajar atau meng! ajar ilmu yang bermanfaat
* Sucikan perkataan dan pakaian
* Bersyukur dengan yang sedikit
* Suka dan redha dengan yang didatangkan oleh Allah
5. Laluan Memantapkan Amalan
* Jauhkan perkataan yang sia-sia
* Pendekkan cita-cita dunia
* Banyakkan puji-pujian kepada Allah
* Banyakkan sedekah dan akhirat
6. Laluan Melalui Titian Siratul Mustaqim
* Kasihilah ailia' Allah Taala
* Berbaktilah kepada kedua ibubapa
* Berpegang teguh dengan hukum syarak
* Bercakap perkataan yang baik sesama makhluk
7. Laluan Menjauhkan Diri dari Neraka
* Banyakkan membaca al-Quran
* Banyakkan menangis kerana dosa-dosa yang lalu
* Tinggalkan perkara maksiat
* Jauhkan segala yang haram
8. Laluan untuk Memasuki Syurga
* Membuat kebajikan seberapa banyak yang boleh
* Kasihi orang yang soleh
* Kerjakan segala suruhan-suruhan Allah
* Merendahkah dri di antara semua makhluk Allah
9. Laluan Berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW
* Kasihilah Nabi Allah
* Kasihilah Rasulullah SAW
* Tuntutilah yang difardhukan oleh Allah
* Banyakkan selawat Nabi Muhammad SAW
10. Laluan untuk Bertemu Allah
* Serahkan seluruh jiwa raga kepada Allah
* Hindarkan diri dari menderhaka kepada Allah
* Betulkan dan baikkan i'tiqad kepada Allah
* Bencikan segala yang diharamkan-Nya
(Halaqah)
✿ ღ ✿ ღ Ingatlah Allah dalam hatimu, nescaya tiada duka utkmu.. Ingatlah Allah dalam hatimu, nescaya musibah dunia tiada buatmu..kelmarin Allah membantumu.. Percayalah, hari ini dan selamanya Allah tetap membantumu.." Jadilah hamba yang paling bahagia di sisi Allah..✿ ღ ✿ ღ
Ahad, 28 November 2010
CINTA sejati..
Renungan: Cinta Sejati
Utk Renungan Bersama.
Mungkin kita terlupa dgn artikel ini. Detik-detik
Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut. Ada sebuah
kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang
dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu,
walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung
gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah
dengan suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku,
kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan
sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti
mencintai aku dan kelak orang- orang yang mencintaiku,
akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu
diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang
dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca- kaca, Umar
adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman
menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh
hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu,
hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-
tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan
cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan
goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan
detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih
tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang
terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan
membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdenga r seorang yang
berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?"
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak
tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku
melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah
menatap puterinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Seolah- olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,"
kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekas ih
Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa
hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan
suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah
terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga
terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi
itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya
masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar
khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai
Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah menga duh. Fatimah terpejam, Ali
yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup,
melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana
sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali
segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa
maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis
mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku,
umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai
sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa
salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.(Halaqah)
Utk Renungan Bersama.
Mungkin kita terlupa dgn artikel ini. Detik-detik
Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut. Ada sebuah
kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang
dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu,
walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung
gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah
dengan suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku,
kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan
sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti
mencintai aku dan kelak orang- orang yang mencintaiku,
akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu
diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang
dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca- kaca, Umar
adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman
menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh
hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu,
hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-
tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan
cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan
goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan
detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih
tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang
terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan
membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdenga r seorang yang
berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?"
tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali
menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak
tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku
melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah
menatap puterinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Seolah- olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,"
kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah
menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah
bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekas ih
Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa
hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan
suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah
terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga
terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi
itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya
masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar
khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai
Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan
tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah menga duh. Fatimah terpejam, Ali
yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup,
melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana
sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali
segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa
maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis
mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku,
umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai
sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa
salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.(Halaqah)
Muhasabah Da'i
• Jika komitmen da'i terhadap dakwah benar-benar tulus…., maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
• Jika komitmen da'i terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fonemena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleransi akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menompang.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan dibarisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
• Jika komitmen da’i terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “ Saya sedar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya”.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka tidak mungkin akan terjadi pencerobohan dalam menunaikan kewajipan dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia kerana dia selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kebaikan atau mencegah kemungkaran. Atau menjadi murobbi yang gigih mendidik da mengajari anak buahnya. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajipan kewangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “Apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada disisi Allah akan kekal”
• Jika komitmen benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi erti keuntungan peribadi dan menang sendiri.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada para pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah dalam hatinya.
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah…
Sumber; Buku Komitmen Da'i Sejati - Karangan Muhammad Abduh - Terbitan Al-I'tishom Cahaya Umat
• Jika komitmen da'i terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fonemena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka sikap toleransi akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menompang.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan dibarisan depan atau belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.
• Jika komitmen da’i terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “ Saya sedar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya”.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka tidak mungkin akan terjadi pencerobohan dalam menunaikan kewajipan dan tugas dakwah. Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia kerana dia selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kebaikan atau mencegah kemungkaran. Atau menjadi murobbi yang gigih mendidik da mengajari anak buahnya. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajipan kewangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “Apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada disisi Allah akan kekal”
• Jika komitmen benar-benar tulus…, maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi erti keuntungan peribadi dan menang sendiri.
• Jika komitmen da’i benar-benar tulus…, maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada para pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip dakwah dalam hatinya.
• Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah…
Sumber; Buku Komitmen Da'i Sejati - Karangan Muhammad Abduh - Terbitan Al-I'tishom Cahaya Umat
Sabtu, 13 November 2010
Taubat seorang wanita tua.
Saleh Al-Muri bercerita, bahawa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan sholat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai solat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa:
"Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Rabb bagiku selain Engkau yang kuharap dapat terhindar bencana yang dahsyat."
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: "Wahai Ukhti! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?"
"Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di neraka nanti." Kata perempuan tua itu.
Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu.
"Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana aku sudah sangat rindu kepadanya." Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya:
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya." (Al-An'am: 91)
"Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?" Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Perempuan itu menjawab: "Alhamdulillah sangat baik, sebaik saat rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: "Selamat datang wahai orang yang meninggal akibat terlalu sedih kerana merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku."
"Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Rabb bagiku selain Engkau yang kuharap dapat terhindar bencana yang dahsyat."
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: "Wahai Ukhti! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?"
"Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di neraka nanti." Kata perempuan tua itu.
Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu.
"Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana aku sudah sangat rindu kepadanya." Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya:
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya." (Al-An'am: 91)
"Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?" Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Perempuan itu menjawab: "Alhamdulillah sangat baik, sebaik saat rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: "Selamat datang wahai orang yang meninggal akibat terlalu sedih kerana merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku."
kekadang hati mrintih derita,jiwa mnangis sedih,akal mgeluh letih..namun hakikat hidup xkan berubah,yang perlu d'ubah adlh diri yg mhadapinye...hati mmilih jln,akal mmulakan lngkh dan iman meluruskan arah...moga kasih ALLAH bersamamu..( halaqah )
Rabu, 10 November 2010
Kau kata kau cinta
Maka di mana tandanya??
kau kata kau berkorban
ke arah siapa kau berkorban?
kepada yang membayar pengorbana insan
atau kepada yang juga memerlukan pembayaran?
Buat pembaca sekalian,"CiNtA...siapa bolah kawal apabila jatuh cinta??,kalau dah jatuh cinta,jatuhlah juga.Kadang-kadang sebab terjumpa,ternampak atau sekadar mendengar cerita.Begitulah peliknya cinta.Kenapa boleh jadi begini?,sebab cinta itu fitrah manusia.Manusia memang ada fitrah untuk mencintai dan dicintai..
tetapi..."
"Tetapi?"..
"Cinta itu hendaklah dibina atas dasar keimanan.
Jangan cinta mengawal keimanan kita tetapi keimanan kitalah yang mengawal cinta."
"Cinta itu perlu diiringi pengorbanan.Bukan korbankan maruah,harta atau masa untuk pasangan kita.Tetapi kita korbankan masa,harta,diri kita untuk tarbiyah agar kita bersedia membina keluarga yang diredhai Allah."
Ingatlah!!..Bina cinta atas keredhaan Allah S.W.T.Bukannya mencari keredhaan Allah atas cinta..
Buat sahabatku..
Assalamualaikum,
kepada sahabatku yang aku cintai kerana Allah.Semoga berada dalam lembayung rahmat dan penjaga-NYA.Sesungguhnya daripada Allah kita datang,kepada Allah jualah kita akan dikembalikan.
Aku tidak tahu kenapa kau menjauhi aku.Tetapi,surat ini menyatakan betapa aku ini menyediakan diriku untuk bersahabat dan berhubungan dengan semua.Harapannya, agar kita sama-sama boleh lengkap-melengkapi dalam menjadi hamba Allah SWT.
Manusia itu diciptakan berpuak-puak, berbeza rupa dan pelbagai perangai.Allah menciptakan kepelbagaian ini untuk kita bantu-membantu dalam mengejar redha-NYA.Tiada apa yang aku inginkan daripada engkau melainkan kita bina hubungan kita ini atas matlamat untuk mendapatkan keredhaan-NYA.
Aku,sebagai seorang sahabat,bersedia menerima kau, walau bagaimana sekali punengkau.Kalau kau ada masalah ,kau boleh kongsikan bersama dengan aku.Aku sentiasa terbuka untuk kau.Sekali lagi, semuanya untuk mendapat redha Allah SWT serta saling bantu-membantu menjadi hamba Allah SWT yang baik dan beriman.
-sahabatmu-
kepada sahabatku yang aku cintai kerana Allah.Semoga berada dalam lembayung rahmat dan penjaga-NYA.Sesungguhnya daripada Allah kita datang,kepada Allah jualah kita akan dikembalikan.
Aku tidak tahu kenapa kau menjauhi aku.Tetapi,surat ini menyatakan betapa aku ini menyediakan diriku untuk bersahabat dan berhubungan dengan semua.Harapannya, agar kita sama-sama boleh lengkap-melengkapi dalam menjadi hamba Allah SWT.
Manusia itu diciptakan berpuak-puak, berbeza rupa dan pelbagai perangai.Allah menciptakan kepelbagaian ini untuk kita bantu-membantu dalam mengejar redha-NYA.Tiada apa yang aku inginkan daripada engkau melainkan kita bina hubungan kita ini atas matlamat untuk mendapatkan keredhaan-NYA.
Aku,sebagai seorang sahabat,bersedia menerima kau, walau bagaimana sekali punengkau.Kalau kau ada masalah ,kau boleh kongsikan bersama dengan aku.Aku sentiasa terbuka untuk kau.Sekali lagi, semuanya untuk mendapat redha Allah SWT serta saling bantu-membantu menjadi hamba Allah SWT yang baik dan beriman.
-sahabatmu-

Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah,baru-baru ini usrah dihadiri 7 orang muslimat.Sebagai naqibah,saya harus bagi tazkirah dan sedikit motivasi kepada akhawat dan adik2 yang tersayang.Ya Allah..
Hari ni taknak berucap panjang sebab nampak gayanya akhawat semuanya tidak begitu bersemangat dan letih.Saya sengaja mulakan usrah dan memasukkan sedikit pertanyaan yang dapat menghiburkan hati serta melakar senyuman di bibir akhawat.Gedebar juga semasa menyampaikan ucapan.Akhawat pandang lain macam je..
Tiba2 terdampar pula di fikiran saya bahawa tidak mengapalah walaupun dengan pelbagai dugaan dan cubaan yang datang sepanjang usrah dijalankan saya sentiasa akan bersama dengan mereka dengan niat di hati ingin meneruskan perjuangan kekasih Allah dan junjungan kita,Rasulullah SAW kerana ALLAH SWT.
Ya ALLAH..Tabahkanlah hatiku dalam meneruskan perjuangan ini..redhailah segala urusanku,urusan sahabat2ku,kenalan2,guru2ku,ibubapaku,keluargaku,muslimin & muslimat dalam menhgharungi cubaan,dugaan dariMU..
Alhamdulillah,walaupun tidak ramai yang menghadiri usrah..namun hati ini terasa sangat bersyukur kerana ada juga antara ramai2 ikhwan,akhawat di madrasah yang benar2 cinta akan AL-KHALIQ.Ya ALLAH...
ALLAH,Aku takut aku tidak buat apa yang telahku ucapkan kepada sahabat2ku ini..
Diri ini terasa benar2 bersalah kerana satu persoalan yang besar sering menjelma di fikiran(Adakah aku ini buat apa yang aku suruh orang lain buat???).
Teringat pula seksaan yang ditimpakan kepada orang2 yang berdusta dan mengajak orang lain berbuat kebaikan sedangkan diri sendiri tidak membuatnya..YA ALLAH..,bantulah aku.,aku takut dengan seksaanMU...Wallahualam.Sebagai seorang hamba ALLAH yang tidak lepas meakukan kesalahan.sentiasalah bermuhasabah diri untuk mendapat cinta yang sejati iaitu cinta ALLAH SWT.
Langgan:
Catatan (Atom)

